Tampilkan postingan dengan label MY DIARY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY DIARY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

Ada Tetan !!!




Jujur aja gw adalah orang yang percaya dan menyukai hal-hal yang berbau mistis. Gw suka menonton acara-acara misteri seperti mister Tukul, masih dunia lain, dunia lain, dan masih banyak lagi. Sejak SD gw udah sering di doktrin dengan cerita-cerita seram maupun mitos-mitos yang berkembang baik itu dilingkungan sekolah maupun disekitar tempat gw tinggal. Cerita tentang hantu dikamar mandi sekolah, pastur kepala buntung, rumah kentang, hantu mister gepeng, tante kunti di kebon samping rumah melekat erat di kepala gw. Tetangga gw sekaligus teman main gw yaitu Dio adalah salah satu orang yang memiliki banyak stok cerita serem, Dio pernah cerita kalau papa-nya pernah melihat hantu kepala buntung di kuburan jeruk purut. Tentu saja gw percaya dan sok sok berani walaupun bulu kuduk merinding disko. Ketika kegiatan pramuka waktu SD kami pernah jalan-jalan menelusuri kuburan jeruk purut inget cerita di Dio, gw cuma komat-kamit baca-baca ayat kursi  padahal saat itu tengah hari bolong.

Gw hampir kehilangan jejak rombongan kelas gw. Gw lari mengejar mereka sambil menunjuk-nunjuk.  Disaat kritis juga teman SD gw si Ani yang lumayan juga sering cerita serem bilang ke gw, ”nggie kalau di kuburan kan gak boleh nunjuk-nunjuk. Kalau nunjuk lo harus gigit jari.”  Gw bertanya, ”lho emangnya kenapa Ni?”
Ia berkata, ”Kalau lo nunjuk-nunjuk nati bisa diikutin lho sama setannya.” Mampus, denger cerita serem ada gw ciut apalagi ketemu sama makhluknya, gw bisa pingsan keajng-kejang kali. Sesuai saran Ani setelah menunjuk gw langsung gigit jari sampai bekas gigi ngecap ke jari gw.

Pulang sekolah kehororan masih belum berakhir karena rumah yang keluarga gw tempatin ini lumayan serem. letaknya di gang buntu serta agak belakang, sampingnya ada kebon kosong yang sering difungsikan sebagai tempat pembakaran sampah. tapi saat ini sang kebon sudah menjadi kontrakan. Sendirian dirumah itu adalah peristiwa yang mencekam karena gw bener-bener gak berani beranjak dari ruang tamu untuk menonton TV ataupun kalau mau ke kamar mandi gw harus menaikkan volume TV hingga kedengeran sampai kamar mandi.Suasana horor tidak hanya terasa pada malam hari, tetapi juga siang hari, mungkin karena waktu itu gw masih kecil dan suci maka gw jadi bisa merasakan kehadiran mereka. Walaupun ada orang dirumah gw  gak berani kekamar sendirian karena tempat itu adalah tempat paling serem di rumah itu.  

Adik gw si Aan pernah gw isengin, jadi saat itu dia pernah gw tinggal kabur ketika ia ada di kamar mandi untuk buang air kecil. Pada saat itu dia masih berusia 3 tahun. Gak lama kemudian dia lari ngibrit sambil berteriak, ”ADA TETAN!!!” yang berarti ada setan, padahal saat itu tengah hari bolong. Gw pun sering merasakan seperti ada yang mengintip, lalu ketika gw memalingkan wajah sosok itu menghilang. Barang-barang kecil seperti pisau dapur nyokap sering hilang. Kami udah ngubek-ngubek di segala bagian lalu ternyata nongol sendiri di tempat yang sudah kita cari sebelumnya. Pernah juga ketika ada acara arisan dirumah gw, salah satu teman nyokap yang ikut bantuin masak pernah dicolek sekitar 3 kali oleh sang penghuni. Belum lagi tiap malam di bawah tempat tidur gw pernah ada yang mengetuk-ngetuk. Tetapi bagusnya gw sendiri gak pernah melihat sosoknya.

Nyokap gw sering diperlihatkan sosok penghuni rumah itu, kata nyokap ada yang wujudnya nenek-nenek, ada juga yang wanita muda tinggi rambutnya panjang, lalu ada juga sosok berupa laki-laki muda. Tetapi kata nyokap mereka tidak akan menggangu kita selama kita tidak macam-macam. Hingga akhirnya kami bisa bertahan dirumah itu selama 5 tahun karena sudah terbiasa dengan fenomena tersebut tapi tetep aja gw masih belum berani ke kamar mandi sendirian.

Nyokap pernah punya pengalaman aneh ketika setelah satu hari pindah dari rumah itu. Kejadiannya sekitar jam 5 pagi diantara sadar dan tidak sadar mereka masuk kedalam mimpi nyokap. Nyokap sedang duduk nonton TV diruang tamu lalu muncullah sosok nenek-nenek yang sepertinya pemimpin mereka tampak marah dan bilang ke nyokap, ”heh, lo pindah rumah gak pamit sama gw.” nyokap yang ketakutan, langsung membaca-baca doa dan bilang, ”yah gimana gua mau pamit sama lo, kalo lo sendiri gak kaliatan.” tidak puas mendengar jawaban nyokap gw dan tidak suka melihat nyokap gw komat-kamit baca ayat suci dia malah makin marah, ”gw gak akan ilang lo bacain juga, sekarang gw panggil temen-temen gw lo.” lalu tiba-tiba datang berbagai macam sosok dari belakang rumah gw dan dari rumah tetangga gw yang berdempetan dengan rumah gw mengerumini nyokap. Lalu tiba-tiba lemari untuk menyimpan keramik itu terbang dan hampir menimpa nyokap gw dan pada saat itu juga nyokap teriak dan terbangun dari tidurnya.  Bokap pun kaget dengan teriakan nyokap dan kemudian mulai bercerita. Bokap menanggapinya dengan positif dengan bilang, ”berarti penghuni sana itu suka sama kita karena kita gak pernah gangguin mereka. Sampai-sampai pas kita pindah mereka merasa kehilangan.” Sejak saat itu nyokap tidak pernah dimimpiian oleh sosok itu.

.



Rumah 10 Juta




Kisah ini beneran nyata terjadi oleh keluarga gw. Sejak lahir hingga umur 11 tahun gw tinggal di Cipete, Jakarta Selatan dan pada saat itu kami masih mengontrak. Selama tinggal di sana keluarga kami kerap pindah-pindah kontrakan. Kontrakan pertama pemiliknya bernama Nyak Wani orang Betawi  tapi orangnya udah alm. Pada akhir tahun 2012 lalu. Kami tinggal disana sejak orangtua gw menikah sampai nyokap hamil adik gw yang pertama, kalau gw sendiri tiggal disana kalau diitung-itung ya sekitar 5  tahun. Rumah yang kami tempatin sangatlah sederhana, gedenya cuma sekitar 20 meteran yang dibagi 3 petak yaitu ruang tamu, kamar di tengah, lalu dapur dan kamar mandi. Gw disana dari lahir sampai SD kelas 1 lalu setelah itu kami pindah ke rumah yang lebih besar dan tentu saja masih ngontrak.


Rumah kedua yang kami tempati pemiliknya dengan nama Mpok Ipah orang Betawi juga, ciri khas dari mpok yang satu ini adalah teriakannya yang bisa sampai 8 oktaf. Apalagi kalau udah marahin anaknya teriakannya bisa didengar hingga radius 50 meter. Rumah yang kami tempati ini luasnya sekitar 40 meteran. Jarak dengan rumah yang dulu sangatlah dekat cuma di samping rumah yang dulu. Sebenarnya enak sih tinggal di rumah itu gw sering main atau lebih tepatnya ngeledekin si Ari, anaknya mpok Ipah yang pada saat itu masih merangkak. Tetapi rumah ini kerap kali bocor kalau hujan deras, selain bocor dindingnya juga kadang basah akibat rembesan air hujan. Oleh karena itu kami tidak lama tinggal disana hanya setahun dan kemudian kami pindah lagi ke tempat yang lebih aman dan nyaman.


Rumah ketiga yang kami tempati pemiliknya adalah orang Batak pemiliknya adalah pak Hutapea. Ia tinggal cukup jauh dari kontrakannya, rumah kontrakan ini adalah yang paling luas yang pernah kami tempati yaitu sekitar 100 meteran dan dengan 5 petak karena ada 2 kamar, ruang tamu, dapur serta kamar mandi, dan teras yang lumayan besar. Jarak dari rumah yang dulu tidak jauh cuma 50 meter tapi sudah beda RT.  Rumah ini juga nyaman karena terletak di belakang dan jauh dari keramaian apalagi tukang jualan. Alasan nyokap pindah kesini juga karena tukang jualan yang selalu lewat depan rumah dan gw maupun adik gw sangat suka sekali jajan. Walaupun rumah ini nyaman untuk ditinggali tapi ini rumah paling horor yang pernah gw tempatin tapi itu nanti aja gw ceritainnya. Kami tinggal disini selama 5 tahun hingga pada tahun 2003 kami pindah ke Depok dan semua bermula di tempat ini.


Kontrakan ini tiap tahunnya selalu naik 500 ribu, dari 1,5 juta hingga mentoknya 3,5 juta. Bagi keluarga kami itu adalah jumlah yang besar. Nyokap bernegosiasi kepada pemilik rumah untuk tidak menaikkan harganya serta meminta waktu untuk bisa membayarnya tetapi pemilik rumah tidak mau tahu dan kami pun harus segera meninggalkan rumah ini. Ketika sedang mengobrol dengan bokap, tiba-tiba nyokap ingat bahwa dulu mereka pernah membeli tanah di daerah Sawangan, Depok dan mereka berpikir untuk membangunnya. Maka orangtua gw pergi ke tempat mbah gw namanya Madinah tetapi gw memanggilnya mbah Kebagusan karena dia tinggal di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan yang notabene ia adalah Budenya dari nyokap gw. Mendengar hal tersebut mbah gw memberikan uang sebesar 10 juta untuk membangun rumah. Lalu kami membicarakannya kepada Aa Asep, dia adalah anak temennya bokap yang dulu menawarkan tanah tersebut. Ia bilang begini, ”Udah mas saya punya kakak ipar tukang bangunan, kerjanya rapi, mas punya uang berapa? Dia bisa kok bangunin rumah. ” bokap gw kaget setengah gak percaya namun Aa Asep bilang pasti rumahnya pasti jadi kok, yang penting gak keujanan sama kepanasan.

Lalu tidak berapa lama bokap dipertemukan dengan kakak iparnya Aa Asep. Ia pun membicarakan rencananya untuk membangun rumah dengan budjet hanya 10 juta beserta desain calon rumah kami. Maklum sebagai orang Jawa tulen ada itung-itungan yang gw gak ngerti. Setelah pertemuan itu sekitar seminggu kemudian kami pindah ke kontrakan yang lebih kecil. Besarnya sampir sama seperti yang di mpok Ipah namun yang gw sedih adalah agak jauh dari kawasan rumah kontrakan yang horor itu. Gw juga jarang ketemu temen-temen main gw yang tergabung dalam 5 sekawan. Kami hanya tinggal sekitar 5 bulan saja disana sebelum akhirnya kami sekeluarga pindah ke Depok. Hal ini dikarenakan menunggu gw sampai kenaikan kelas 2 SMP dan SMP gw ini termasuk favorit dan untuk masuknya juga susah karena passing gradenya tinggi, SMP itu adalah SMPN 68 Jakarta.

Sebelum pindah kami sempat mericek calon tempat tinggal kami. Tanahnya cukup luas, sebesar 100 meter namun  yang kami bangun hanya 70 meter. Dengan uang hanya 10 juta jangan harap rumah langsung jadi bagus. Pada Saat itu rumah kami hanya berupa batako yang belum diplester maupun lepa, lantai belum dikeramik, dan hanya beratapkan asbes tanpa plafon. Jangankan plafon pintu kamar saja belum ada. Walaupun begitu kami bersyukur karena kami pasti tidak akan kehujanan dan kepanasan disini. Setelah puas melihat-lihat calon rumah kami orangtua gw  memasang karpet plastik kotak-kotak hitam dan putih untuk lantainya yang mereka beli di Tanah Abang.

Hari pindahan pun tiba, kami benar-benar sangat sedih karena berpisah dengan tetangga-tetangga yang sudah sperti saudara. Gw pun sedih karena berpisah dengan teman-teman serta lingkungan tempat gw menghabiskan masa kecil disini. Tetangga-tetangga banyak yang datang untuk membantu bahkan ada yang ikut mengantar kami sampai sana. Perpisahan kami diliputi rasa haru yang mendalam tatkala gw melihat nyokap dan temannya berpelukan sambil menangis ketika mereka mau pulang kembali ke Cipete. Gw pun jadi ikut menangis dan ingat perpisahan gw dengan teman-teman disana.

Setelah pindah, gw sering berkunjung ke Cipete untuk ketemu teman dan tetangga-tetangga dulu. Gw juga mampir ke rumah tempat gw dulu tinggal.. Belum lama ini gw melihat di tembok teras mantan rumah gw ternyata masih ada tulisan tangan gw yang berbunyi Anggie dan Farhan. Farhan adalah nama adik gw yang pertama, wah ternyata sejak gw pindah hingga saat ini ternyata semuanya belum berubah. Anggap aja itu adalah kenang-kenangan dari gw selama gw tinggal disana.

310313




Bagi gw semua angka itu sama, gak ada pengaruhnya. Gw juga salah satu orang yang tidak percaya yang namanya angka sial maupun keberuntungan. Sampai-sampai tibalah pada hari minggu tanggal 31 Maret 2013 atau lebih tepatnya 2 hari yang lalu. Hari itu adalah salah satu hari paling menyeramkan dalam hidup gw. Kejadiannya bermula pada cuaca pada hari itu yang sangat panas karena sudah 2 hari tidak hujan. Gw tidur siang bermandikan keringat dan gw bangun sekitar jam ½ 3 sore sambil menunggu acara kesayangan gw yaitu Iron Chef. Bokap dan adik gw yang pertama tidur di kamarnya masing-masing sedangkan nyokap dan adik bungsu gw ada dirumah tetangga.

Sekitar jam 3-an langit menjadi sangat mendung dan gelap, udah kayak jam 6 sore. Tiba-tiba ada suara petir namun ada yang aneh dengan petir yang satu ini karena gemuruhnya tidak berjeda. Gw yang mulai ketakutan langsung mematikan TV karena takut si TV jadi korban sambaran petir untuk kedua kalinya. Tak lama kemudian tanpa adanya ancang-ancang alias gerimis terlebih dahulu hujan pun turun dengan lebatnya. Gw langsung menutup pintu karena selain hujan lebat anginnya pun mulai kencang seiring dengan itu listrik pun mati. Akhirnya gw masuk ke kamar dan membaca buku tetapi karena gelap akhirnya gw tidak melanjutkan kegiatan itu dan melihat ke jendela kamar. Dari jendela kamar gw melihat angin yang bergerak begitu kencangnya sampai-sampai batang dan daun ikut terbang bersamanya. Selain itu gw juga melihat nyokap yang lagi dirumah tetangga menunjuk-nunjuk ke arah selatan dan dari pembicaraan yang gw tangkap mereka melihat bentuk si angin yang berputar-putar. Gw pun sadar bahwa kami sedang dilanda angin puting beliung.

Gw mulai ketakutan, seluruh tubuh gw gemetar bersamaan dengan itu gw mendengar bunyi KRAKK sepertinya ada asbes yang lepas dan bersamaan dengan itu lalu pintu rumah gw terbuka sendiri  air masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba ada bunyi BAMMMM dari atas. Gw melihat keatas dan ternyata asbes rumah gw yang berada di ruang TV dan kamar adik gw yang pertama bolong. Gw pun langsung teriak memanggil bokap,”Pak asbesnya bolong.” Bokap gw langsung menghampiri gw diikuti adik gw. Pada saat itu gw menutup kuping, gw takut asbes rumah gw terbang dan air akan memenuhi rumah kami atau perkiraan yang lebih buruk asbes rumah kami lepas lalu salah satu dari kami tertimpa seng atau asbes rumah orang.

Air pun mulai berjatuhan dari asbes yang bolong itu, nyokap yang panik melihat angin tersebut masuk kedalam dengan basah kuyup dan menganggap kami semua masih tidur. Lalu gw memberitahukan bahwa ada asbes yang bolong. Di tengah hujan yang masih lebat bokap nekat mau memeriksa asbes rumah kami. Gw pun mencegahnya karena petir masih menyambar-nyambar dan angin masih luamyan kencang. Setelah hujan sudah mulai reda, bokap dibantu oleh tetangga memeriksa kondisi asbes yang bolong itu. Ternyata asbes rumah kami bolong karena tertimpa asbes tetangga gw yang lepas. Detik itu juga bokap mengakalinya untuk sementara menutup tempat yang bolong dengan asbes bekas kandang ayam. Lalu didalamnya bokap membuat jalur atau seperti talang air kearah luar supaya air tidak menetes di dalam rumah.

Efek dari angin puting beliung ternyata tidak hanya terjadi pada rumah gw. Bahkan tetangga gw ada yang temboknya roboh karena tertimpa pohon besar, lalu asbes rumah beterbangan, genteng dan kabel listrik pun melorot semuanya serba berantakan. Apalagi gw mendengar bahwa pohon asem besar dan terkenal angker yang berumur ratusan tahun dekat SD adik gw ikut tumbang sampai akar-akarnya tercabut dari tanah.


Walaupun begitu gw masih bersyukur kejadian ini tidak menelan korban jiwa satu pun. Inilah tanda-tanda kekuasaan Allah yang sesungguhnya maha menguasai segala sesuatu yang ada di jagat raya ini. Tak beberapa lama setelah kejadian itu dan gw beserta nyokap sedang membersihkan rumah yang dipenuhi oleh air muncullah pelangi yang besar dan indah. Gw berpikir jika ini salah satu kiamat kecil bagaimana nanti ketika kiamat besar di akhir zaman nanti? Melalui kejadian ini semoga kita semakin bertakwa kepada Allah SWT. Amin.
 
Pohon Asem yang udah ratusan taun tumbang gara-gara puting beliung

kecabut sampai ke akar-akarnya

Pelangi setelah badai

pelanginya cakep banget

Petaka Ebe dan Wawa




PPL (Program Pendalaman Lapangan) merupakan saat-saat yang paling gw gak akan pernah lupakan. Selama 3 bulan gw dan ketiga teman gw Rahmah, Ratih, dan Arum praktek mengajar di sebuah SLB di kawasan Jakarta Timur.  Sebernarnya sih 4 bulan tapi 1 bulannya itu untuk observasi dan diskusi dengan guru pamong masing-masing. Gw kebagian mengajar di SMPLB sedangkan Rahmah dapat bagian mengajar di TKLB atau kelas persiapan, Ratih mengajar SDLB kelas 1-3, dan Arum mengajar di SDLB kelas 4-5. Kami sepakat tidak menggunakan kelas 6 karena persiapan UAN.

Pada bulan kedua PPL tiba saatnya kami rolling, pada minggu pertama gw mengajar di kelas persiapan, lalu minggu kedua di kelas 1-3, dan minggu ketiga di kelas 4-5.  Tapi diantara semua kelas tersebut  kelas 1 adalah kelas yang menurut kami horor dan dikeramatkan (apaan sih!!). Kelas itu menjadi horor karena siswanya susah banget dikondisikan padahal sekelas hanya berisi 5 murid yang bikin horor karena ada 1 anak Down Syndrome yang sebut saja Wawa yang sangat hiperaktif, suka meludah, lempar-lempar buku maupun tas, narik-narik jilbab, dan teriak-teriak. Belum lagi temannya si Ebe yang Autis bertingkah laku sama. Belum lagi korban kejahilannya si Wawa, sebut saja Iin yang luar biasa cengengnya yang dikit-dikit nangis. Membuat kami semua harus putar otak untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, tentram tanpa ada korban jiwa.

Tiba akhirnya giliran gw rolling ke kelas 1. Sebelum itu gw berkonsultasi ke Bu Siska, guru kelasnya yang kebetulan juga guru pamong materi apa yang kiranya cocok untuk mereka namun tidak keluar dari SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar) dalam kurikulum. Dengan sikap lemah lembutnya Bu Siska memberikan saran mata pelajaran serta SK dan KD yang cocok. Selain berkonsultasi dengan guru kelas, gw juga konsultasi dengan si Ratih karena dia sudah bisa nanganin 2 anak hiper itu. Ratih bilang kalau. ada satu murid yang seolah-olah jadi satpamnya mereka berdua, jadi kalau mereka mulai berulah maka dia yang akan bertindak untuk meredamnya. Gw memutuskan untuk pelajaran Bahasa Indonesia menyebutkan kesukaan dan ketidaksukaan terhadap suatu benda karena mereka masih kesulitan untuk berbicara. Gw menyiapkan media pembelajaran berupa gambar-gambar benda yang nantinya ditempel di papan tulis.

Waktunya eksekusi pun tiba, konon menurut Bu Siska mereka berdua menjadi lebih liar ketika jam kedua setelah istirahat. Gw terpaksa mengajar di jam kedua karena pada jam pertama mereka olahraga. Gw masuk kelas dengan sangat pede, lalu gw memberi salam kepada mereka sambil menghitung murid yang hadir. Bu Siska di belakang kelas mengamati kinerja mengajar gw dan membaca RPP yang gw buat.  Ternyata ada 1 yang tidak datang, setelah gw perhatikan lagi ternyata yang tidak datang itu si satpam. Gw panik namun pada saat itu juga gw mencoba tetap tenang, gw berpikir dengan sedikit kesabaran maka gw bisa menaklukkan mereka. Kegiatan belajar berjalan sesuai apa yang gw rancang dalam RPP. Semua siswa mau berbicara menyebutkan gambar benda-benda yang gw tunjukkan kemudian mereka menempelkan sesuai dengan tabel yang gw tempel di papan tulis sampai pada penutup semuanya lancar.

Petaka dimulai ketika mendekati jam pulang, mereka semua terlihat wujud aslinya layaknya manusia serigala yang berubah ketika bulan purnama. Si Ebe mulai menggoyang-goyang meja dan membuat si Wawa melempar buku ke arah si Ebe akhirnya terjadilah perang buku dan perang ludah diantara mereka. Gw berusaha menenangkan  dan memisahkan mereka tetapi gw malah kena ludahan mereka. Bu Siska dengan tegasnya mulai turun tangan dengan memarahi Ebe dan Wawa. Gw kaget karena Bu Siska seperti 2 kepribadian yang berbeda. Sepengamatan gw sebelum-sebelumnya  dia adalah orang yang sabar dan lemah lembut namun kali ini sepertinya tanduknya mulai keluar.

Emang dasar anak autis si Ebe abis dimarahin sama Bu Siska seperti tidak merasakan apa-apa, ia hanya bicara dengan nada seperti robot ”papa Ebe mana? Papa Ebe mana? Ebe bukan anak nakal. Ebe anak baik.” Sedangkan si Wawa menangis lalu memeluk gw. Pada awalnya gw merasa anak ini manis sekali lalu semuanya berubah menjadi pahit ketika ia menggigit punggung gw. Gw teriak kesakitan dan berusaha melepas gigitannya dari punggung gw namun bukannya dilepas si Wawa malah menarik jilbab gw sampe lepas. Bu siska yang melihat kejadian itu langsung melerai bocah itu lalu menenangkan gw. Tak lama kemudian kelas dibubarkan.

Setelah membetulkan jilbab gw dan sudah merasa lebih tenang. Bu Siska melaporkan hasil pengamatannya ke gw. Perasaannya gw pun campur aduk, gw merasa hari ini gagal karena gw gak bisa mengkondisikan siswa dengan baik. Menurutnya cara ngajar gw sudah bagus karena semua siswa ikut aktif dalam kegiatannya dan Bu siska tidak mempersalahkan petaka tadi sebelum pulang karena kejadian itu hampir setiap hari terjadi. Gw merasa lega sekaligus salut dengan Bu Siska karena ia bisa menjadi guru yang sangat sabar namun ia juga bisa menjadi seorang guru yang sangat tegas oleh karena itu dia mengkondisikan 2 bocah hiper itu dengan baik

Tangan Kasar




Seperti biasa setiap pagi gw selalu melaksanakan tugas wajib gw sebagai anak rumah tangga yaitu menyapu dan mengepel. Mau berangkat kuliah sepagi apapun gw diwajibkan menuntaskan tugas tersebut sebelum memulai aktivitas. Akhir-akhir ini gw menyadari bahwa tangan gw pun menjadi sedikit kering dan kasar karena melaksanakan tugas mulia tersebut. Gw ingat dulu waktu  gw masih SD kira-kira kelas 5 dan saat itu gw masih tinggal di daerah Cipete Selatan. Gw sering dicengin gara-gara tangan gw kelewat mulus maklum lah pada saat itu gw merasa seperti putri mahkota ketika dirumah.

Salah satu teman sekolah gw sebut saja dia Inu bilang begini. ” Nggie coba lihat tangan kamu dong.” dengan muka lugu gw menyodorkan tangan gw. Lalu ia mengelus-elus telapak tangan gw. ”Ih tangan kamu alus amat, pasti kamu dirumah gak pernah kerja ya, hayo ngaku!” Gw yang masih terkejut hanya mengangguk pasrah.
” Kamu tau gak sih kalau orang yang tangannya alus kaya gini gak bisa nikah?”
Gw tambah kaget apa hubungannya antara tangan halus dengan pernikahan? Gw mulai membayangkan apakah sang cowok akan berpikir ulang untuk menikahi gw ketika pada saat akan melamar ia sudah dalam posisi berlutut memegang tangan gw dan bilang.

”Yang, aku tadinya mau melamar kamu tapi gak jadi karena tangan kamu halus...” Lalu gw bertanya pada si Inu. ”Gak bisa nikah! emang kenapa?”
”Cewek kalau tangannya halus itu biasanya gak bisa kerja nggie, kayak kamu gitu.”

Sialan!!! dia bener!!! Gw mulai membayangkan kelanjutan dari kronologi kisah gagal dilamar lagi, ” Yang, Aku takut kamu tidak bisa mengurus rumah tangga kita, anak-anak kita, maafkan aku syang.” Lalu ia berdiri kemudian pergi dan tak kembali. Gw hanya bisa berkata ” Sayang......comeback...comeback....” ala Film Titanic ketika Rose memanggil sekoci yang meninggalkannya. Oh ironisnya nasib gw.

Belum habis rasa sedih gw atas kejadian barusan  ketika sampai rumah gw dimarahin nyokap gara-gara tidak membantu pekerjaannya. Hal ini bermula dari nyokap melihat anak sebelah yang bernama Linda yang juga teman main dan teman satu sanggar tari juga. Maklum lah rumah kami berdempetan yaitu kontrakan 3 pintu yang antar rumah dibatasi oleh ½ bata, ½ triplek sehingga ketika ada keributan sedikit di rumah tetangga pasti dengar. Gw dan Linda juga kadang saling berkomunikasi di balik triplek itu.

Back to nyokap, gw yang lagi asyik nonton TV sang nyonya besar menyindir gw karena melihat Linda yang rajin membantu ibunya dengan bilang, ”Coba kamu lihat Linda dia rajin nyapu, ngepel, nyuci piring Nggie. Coba kamu kerjaannya cuma main aja.” Gw berlagak cuek dengan tidak menatap nyokap dan terus menonton TV. Ia melanjutkan, ”Kamu ini sebagai perempuan kalau gak mulai belajar kerja dari sekarang berabe nanti kalau udah berumah tangga.” duh si mama gw masih kelas 5 SD ”dapet” aja belum udah diceramahin tentang rumah tangga, otak gw pada saat itu belum nyambung sehingga gw masih bersikap cuek. Tetapi karena merasa tidak diperhatikan nyokap dengan emosi malah bilang, ”Mulai sekarang tiap sore kamu harus nyapu sama ngepel, gak boleh main kalau belum beres.” nyokap pun ngeloyor keluar rumah untuk bergosip dengan ibu-ibu di warung depan.

MAMPUSSSS...nyokap gw ngamuk. Awalnya gw menganggap apa yang ia bilang cuma gertakan saja tetapi keesokan harinya gw benar-benar tidak boleh main jika belum menuntaskan tugas gw. Gw jadi ingat kata-kata si Inu kalau perempuan bertangan halus karena dirumah gak pernah ngapa-ngapain selamanya tidak akan menikah. Takut semua itu terjadi pada gw, pada akhirnya gw pun tergerak melakukan tugas itu dan berpikir bahwa mungkin inilah saatnya gw belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga.  Ya sudah setelah tidur siang jam 3 sore gw mulai menyapu dan mengepel lantai. Pada saat itu gw mengepel bukan memakai alat pel yang ada gagangnya, tetapi hanya menggunakan selembar kain pel. Hari itu terasa berat untuk gw karena harus jongkok, berdiri, jongkok, berdiri, belum lagi kotoran yang ada di sela-sela sehingga gw harus bersusah payah untuk menggapainya. Kalau sekarang sih sudah pakai pel-an yang ada gagangnya.

Setelah berbulan-bulan menjalani tugas ini disekolah ketika lagi pelajaran olahraga, Inu menghampiri gw, ” Nggie sini aku periksa lagi tangan kamu.”
ia mulai mengelus-elus lagi tangan gw lalu ia tersenyum, ”Wuihh tangan kamu udah mulai kasar kamu udah mulai kerja ya?”
Gw menjawab dengan bangga. ”Iya dong aku kan juga pengen nikah. ” lalu ia menyalami tangan gw dengan bilang, ”Selamat ya kamu udah bisa menikah.” Pada saat itu gw seneng banget karena itu artinya gw gak akan jomblo seumur hidup.

Pekerjaan wajib nyapu dan ngepel masih menjadi tugas rutin yang gw laksanakan sampai saat ini. Bahkan semakin besar tugas gw makin bertambah seperti menyetrika pakaian seminggu sekali, membantu nyuci, atau kadang-kadang bantuin masak. Tugas rutin ini tidak berubah hanya saja jadwalnya yang kadang harus disesuaikan. Ketika SD sampai SMA gw melaksanakannya pada sore hari, tetapi ketika kuliah gw lebih banyak melaksanakan kegiatan tersebut pada pagi hari. Kalau kuliah pagi jam 8, gw harus berangkat jam 5.30 pagi maka gw akan melaksanakan tugas itu sekitar jam ½ 5 pagi karena kadang gw pulang malam, atau kalau pulang sore pun gw udah capek di jalan. Depok-Rawamangun jauh cuy. Ketika ada jadwal ngajar pagi ketika PPL pun gw tidak terlepas dari tugas tersebut walaupun gw tidur malem karena sibuk buat RPP dan media pembelajaran.

Tapi kalau dipikir-pikir pada saat SD kok gw bego banget ya percaya kaitan antara tangan halus dengan pernikahan namun kalau diambil sisi positifnya gw udah gak kaget lagi yang namanya pekerjaan rumah tangga yang berat dan terasa gak selesai-selesai. Gw jadi bisa lebih menghargai nyokap yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus 3 orang anak. Sehingga kalau ditinggal nyokap pulang kampung pun gw bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan ini adalah bekal yang berguna ketika nanti gw berumah tangga.

I love you mama dan terima kasih Inu

Minggu, 31 Maret 2013

MABA (MAHASISWA BARU)



Mendaftar ulang adalah proses paling ribet yang pernah gw lakuin. Bolak-balik kesana kemari, lempar sana, lempar sini belum lagi dijutekin sama orang BAAK beuhhh menyebalkan.  Oleh karena itu nyokap gw hanya mengantar pada hari pertama daftar ulang, ketika hari kedua dan ketiga ia menyerah sehingga gw mengurus semuanya sendirian.

Sekitar sebulan kemudian kami briefing untuk MPA atau lebih dikenal dengan ospek.  Masa MPA benar-benar masa suram karena MPA itu jatuh pada bulan puasa.  Harus sampai kampus jam 5 pagi dan pulang jam 5- ½ 6 sore. Gw pun terpaksa harus berangkat jam 3 pagi. Entah bokap gw kesurupan setan apa pas lagi bawa motor, kami hanya menghabiskan waktu 1 jam perjalanan dari Sawangan, Depok sampai Rawamangun. Padahal aslinya kalau naik kendaraan umum bisa 2,5-3 jam perjalanan. Gw sepanjang jalan hanya bisa berdzikir dan baca doa selamat.

Sebenarnya penugasan-penugasan yang harus dibuat lebih seperti kuliah beneran, jadi kami harus menulis sebuah artikel tentang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) secara individu lalu penugasan kelompok berupa membuat makalah tentang ABK bagaimana ciri-cirinya, penyebabnya, bagaimana cara pembelajarannya. Kebetulan gw kebagian tentang kesulitan belajar atau biasa kami singkat dengan kesbel. Itung-itung pemanasan sebelum kuliah. Namun dibalik itu semua gw paling gak suka atribut yang harus kami gunakan. Selempang warna hijau, tas dengan logo UNJ, nametag super besar, baju item putih, sepatu item kayak anak SMK mau PKL, dan ada satu yang menurut gw jahanam banget yaitu MONAIR 1 liter.

Gw, nyokap, dan adik gw upi yang pada saat itu masih balita muter-muter Rawamangun untuk nyari itu air mineral, ketemu nggak nyokap malah sakit seminggu. Ketika hari H gw dikasih tau temen gw kalau itu nyarinya di daerah Priok.  Lalu gw melihat sekeliling gw yang pada berhasil mendapatkan sang monair. Namun akhirnya gw melihat salah satu peserta MPA yang mana ia menulis kata monair di kertas lalu ditempelkan ke botol air seliter itu. Oke itu ide yang sangat brilian, akhirnya gw minta tolong Lya ambil 1 kertas lalu memintanya menuliskan monair dan ditempel ke botol minum gw karena pada saat itu kami dipanggil untuk sholat subuh berjamaah sedangkan Lya sedang Haid.

Hari pertama MPA gw pulang dengan keder. Fisik luar biasa capeknya ditambah berdiri dalam patas ac selama 1 ½ jam sehingga ketika patas melewati tol lingkar luar Taman Mini gw menganggap kita sudah sampai UI karena suasanya mirip sekali kalau kita lewat bundaran UI. Alhasil gw diketawain sama temen gw Lya dan Okta. Mungkin penumpang lainnya juga ikut tertawa hanya saja gw gak menyadarinya. Hari kedua  MPA gw kena hukuman berupa orasi didepan panita karena kemeja gw ada coraknya padahal perintahnya biru muda polos. Tetapi karena gak ada uang buat beli jadi pakai yang ada aja. Setelah MPA berakhir gw sukses sakit selama 3 hari.

Setelah MPA kami pun sudah disibukkan dengan isi-mengisi krs. Kami yang masih oon antri di anjungan untuk mengisi krs. Antriannya sungguh luar biasa panjangnya dan pada saat gw ingin mengisi krs gw dikejutkan oleh password yang salah. Akhirnya gw dan teman gw amel ke BAAK dan Puskom untuk bertanya password. Tetapi kami malah di lempar sana sini hingga Amel menelpon ibunya yang kebetulan juga kuliah disini, kami disuruh ke TU FIP dan  alhamdulillah masalah terpecahkan. Begitulah pengalaman gw ketika menjadi MABA, sebenarnya sih masih banyak unek-uneknya tapi biarkan tetap menjadi rahasia. Hoho ^^

Menelisik Calon Kampus



Menurut orang-orang masa SMA merupakan masa-masa yang indah dan gak akan terlupakan, tapi buat gw masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan, sedikit nakal, dan diluar zona nyaman gw. Gw mo cerita saat-saat gw diterima di UNJ dan melakukan penelusuran calon kampus bersama bokap gw.

Sehari setelah pengumuman UMB secara online, gw dan bokap menuju UNJ. Tidak lupa di terminal Depok gw membeli Koran tempo untuk menyakinkan bahwa gw benar-benar diterima disana. Sambil menunggu bis berangkat gw membolak-balik halaman pengumuman UNJ dan tertera-lah nama gw disana. Kira-kira 1 ½ jam kemudian kami tiba di UNJ.  Kesan gw pertama kali lihat calon kampus gw ini adalah wow gedungnya unik ya bergaya tempo dulu ala tahun 70’n alias gedungnya tua bener cuy dulu belum direnovasi. Gw membandingkan ketika survey ke UIN bersama Yel dan Mae yang terlihat modern dan megah. Back to UNJ gw dan bokap menelusuri kampus itu yang seeepiiii banget tanpa kehidupan karena hari ini adalah hari minggu. Gw dan bokap celingak-celinguk kanan kiri mencari yang namanya Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan ditengah kebingungan kami mencari fakultas tersebut lewatlah seorang mahasiswi dan kesempatan ini tidak gw lepaskan untuk bertanya dimana si fakultas itu berada.

Si mahasiswi ini adalah anak FMIPA angkatan 2006 yang kebetulan sama-sama berdomisili di Depok. Mahasiswi penyelamat gw dari ketersesatan ini mengantarkan gw dan bokap ke FIP setelah itu ia pamit karena ia masih ada kegiatan lain disini. Gw kaget karena diantar ke sebuah gedung tua yang terkesan hampir mau roboh dengan pohon beringin besar di depannya. Belum lagi gedung di seberangnya yaitu Sarwahita yang sekarang sudah Allmarhum lebih parah lagi.  Gw sempat berpikir. ”gw gak salah gedung kan? Gw gak diantar ke gedung kosong berhantu kan.” Kecewa sudah pasti, tapi yang bikin gw semangat lagi adalah ini universitas negeri (yaiyalah) dan universitas ini sudah melahirkan guru-guru dan para ahli di bidang pendidikan terkenal dan berdedikasi tinggi.

Puas memandangi gedung FIP, kami menuju sebuah tempat namanya BAAK. Di tempat itu terdapat loket-loket yang dipisah sesuai dengan fakultas. Gw melihat ada 1 loket yang dibuka dan disana gw melihat ada lembar pengumuman UMB yang berbentuk seperti koran. Setelah puas berkeliling calon kampus, kami memutuskan untuk pulang. Jalur pulang yang dipilih bokap berbeda dengan sebelumnya. Ketika berangkan lewat jalan Pemuda dan pulangnya lewat Rawamangun Muka.

Pulang lewat Rawamangun Muka bukanlah ide yang baik karena ditengah cuaca yang teriknya luar biasa gw dan bokap jalan sampai utan kayu yang jaraknya kira-kira 500 meteran dan menunggu bis Mayasari Bakti Patas AC 84. Lalu bodohnya gw bersliweran metromini 49 dan 46 disamping tetapi gw gak kepikiran untuk naik itu sampe utan kayu. Belum lagi nunggu patasnya yang lama Hufffttt... rasanya pengen terjun ke kolam yang banyak es-nya. (lho?)

Setelah 45 menit nunggu akhirnya tuh patas datang juga, dinginnya ac di dalam bis itu membawa kenyamanan tersendiri buat gw. Ternyata eh ternyata patas ac yang gw naikin itu sama dengan patas yang gw naikin ketika berangkat. Bagaimana gw bisa tau itu patas yang sama? Tentu saja dari kernet dan supirnya. Patas ac itu tidak seperti metro mini yang bertebaran dimana-mana, paling banyak 8 mobil yang keluar.

Setelah sampai rumah gw bercerita ke nyokap tentang hasil penelusuran calon kampus gw. Malamnya gw iseng menandai siapa saja orang-orang yang senasib terdampar di jurusan ini. Gw mendapatkan 10 nama dan ada 1 nama yang tampak familiar untuk gw yaitu Aprilya. S. Lalu tiba-tiba HP gw berdering dari nomor yang gak gw kenal. Gw menjawab telepon tersebut. ”halo.”

”Halo nggie, ini gw Lya, lu dapet PLB juga ya?” gw mengiyakan.
”Wah senasib kita ya kok lu bisa milih itu? ”
”Gw awalnya disaranin sama si Yel, daripada gw gak dapet negri makanya gw pilih    itu, eh malah itu yang tembus.” Lalu kami janjian daftar ulang bareng kesana dan tidak lupa gw menceritakan hasil penelusuran calon kampus kami hari ini.

Sabtu, 30 Maret 2013

UMB Ajaib



         Ketika pulang dari kampus ketika ambil undangan wisuda gw sempat seangkot sama anak SMA sepertinya ia kelas XII atau kelas 3 SMA yang baru habis pulang bimbel karena mereka membahas renacana mereka untuk kuliah dimana dan memilih jurusan apa. Siswa A bilang ingin masuk jurusan hukum di UI karena dekat dari rumah dan siswa B ingin masuk STAN. Gw jadi ingat ketika zaman SMA yang mana cita-cita gw untuk menjadi wartawan harus gw kubur dalam-dalam karena sekolah yang mahal dan kepribadian gw yang tidak cocok berkecimpung dalam bidang ini. Hingga akhirnya ada tetangga gw namanya Henny namun gw biasa memanggilnya tante Henny karena dia 10 tahun lebih tua dari gw.
         Tante henny berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta dan ia juga membuka kursus dirumah dengan harga yang sangat-sangat miring jauh dari lembaga-lembaga bahasa yang bertebaran dimana-mana. Dia berjasa sekali dalam pembelajaran bahasa Inggris hingga suatu ketika disekolah guru bahasa Inggris memberikan gw hadiah berupa majalah berbahasa Inggris karena nilai  ulangan bahasa Inggris gw paling tinggi, dan sejak saat itu gw beralih cita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa inggris.
         Setelah UAN kami mempersiapkan untuk ujian masuk perguruan tinggi dan jalur pertama yang gw daftar adalah UMB (Ujian Masuk Bersama) yang pada saat itu tahaun 2008 hanya diikuti oleh 5 universitas yaitu, UI, UIN, UNJ, UNHAS, dan USU.  Pendaftarannya dilakukan secara kolektif dari sekolah sehingga gw gak perlu repot-repot ngurus sana-sini. Teman-teman gw semua bercita-cita untuk masuk UI selain dekat, siapa sih yang tidak tahu UI? Salah satu universitas terbaik di Indonesia yang sudah melahirkan banyak orang hebat dan berprestasi baik dalam maupun luar negeri. Tetapi gw tidak merencanakan masuk UI dengan beberapa alasan selain otak gw gak nyampe karena passing grade yang tinggi, gw juga harus dihadapkan dengan kondisi keuangan keluarga gw yang gak akan kuat ditambah gw masih punya 2 adik yang masih sekolah.
         Akhirnya ketika dihadapkan pada sebuah formulir UMB gw diberikan 3 pilihan universitas serta jurusan yang gw inginkan karena pada saat itu gw mengambil IPC. Pilihan pertama gw jatuhkan pada Pendidikan Bahasa Inggris di UNJ karena menurut tante Henny disana paling bagus dan dulu ia tes disana tapi gak tembus. Lalu pilihan kedua gw jatuhkan di UIN Syarif Hidayatullah tetapi gw lupa milih jurusan apa yang pasti itu berhubungan dengan arsitek pertamanan. Tiba pada pilihan ketiga, inilah saat-saat paling galau dalam hal masa depan. Gw gak punya rencana milih jurusan apa lagi gw cuma bisa membolak-balikkan kertas yang isinya daftar jurusan beserta kode kelima universitas tersebut. Lalu teman gw Yel bilang ” Gie lo milih Pendidikan Luar Biasa aja, gw mau milih itu tapi gak boleh sama bokap gw.” lalu temen gw Yuyun setuju dengan usulnya ”Iya nggie, gw juga milih itu coba aja lumayan siapa tahu tembus.” Setelah mempertimbangkan saran mereka berdua yang menurut gw ada bagusnya maka gw menjatuhkan pilihan ketiga gw ke Pendidikan Luar Biasa UNJ.
         Sehari sebelum tes kami survei tempat terlebih dahulu. gw bersyukur karena mendapat tempat tes yang dekat yaitu FMIPA UI dengan Yel. Selain kami semua teman-teman dapat tempat di daerah Salemba. Yah setidaknya merasakan 2 hari suasana di UI tanpa harus jadi mahasiswa.  Gw, yel, dan teman gw 6 orang anak IPS janjian disekolah lalu bersama-sama berangkat ke UI dengan masih menggunakan seragam SMA. Kami turun di Kober atau gang kecil yang tembus stasiun UI dan fakultas Hukum. Setelah sampai stasiun UI kami naik bis kuning atau kami menyebutnya dengan bikun untuk berkeliling ke fakultas lainnya karena bangkunya penuh maka terpaksa kami berdiri.
         5 menit pertama didalam bis semuanya berjalan seperti biasanya kami mengobrol tentang lokasi mana yang akan kami kunjungi terlebih dahulu namun setelah itu sang supir bikun tiba-tiba nge-rem mendadak. Kami semua yang tidak siap lepas pegangan dan jatuh menimpa mahasiswa dan mahasiswi UI yang duduk dihadapan kami. Pada saat itu juga kami langsung meminta maaf dan alhamdulillah permintaan maaf kami diterima tapi malunya itu lho rasanya pengen garuk-garuk aspal dan muka pengen gw tutup pake baskom.
         Singkat cerita tiba saatnya pengumuman UMB, gw dan nyokap segera menuju warnet langganan gw untuk melihat pengumuman secara online. Sebenarnya di koran juga akan diumumkan keesokan harinya tapi karena gw orangnya gak sabaran sehabis maghrib gw langsung cap cus kewarnet didampingi nyokap selain gw gak bisa bawa motor setidaknya ada orang yang akan menyadarkan gw kalo tiba-tiba kejang atau pingsan (lebay). Gw buka websitenya, gw masukin nomor pesertanya lalu muncullah tulisan SELAMAT ANDA DITERIMA DI 01628 (angka-angka ini hanya karangan karena gw lupa kodenya hehe :p).
         Gw senangnya bukan main karena UMB gw tembus. Gw berkata sambil meluk nyokap. ”Ma tembus ma, UMB-nya tembus. Tapi itu jurusan apa ya?” gw langsung sms teman gw Rissa untuk minta dia ngecek kodenya. Gak berapa lama dia bales. ”Pendidikan Luar Biasa, nggi.” WHAT !!! Jerit gw dalam hati. Buset dah jurusan yang gw pilih paling bontot dan gak diharapkan malah tembus. Gw langsung sms seseorang yang pada saat itu mengisi hati gw dan ia menyemangati kalau gw pasti bisa melewatinya dan bidang itu sebagai tabungan pahala untuk gw. Ada sedikit kelegaan dihhati namun pada saat itu gw masih agak gimana gitu dengan orang disabilitas namun semuanya berubah ketika gw berada di jurusan ini.

Aku, Rina, dan Cerpen



        Cerpen...ya, cerita pendek. Bagi gw cerpen bukanlah sekedar cerita pendek tapi cerita yang tidak pernah selesai. Cerita yang telah  gw tinggalkan selama 8,5 tahun, cerita yang sejak duduk di kelas 2 SMP hingga lulus kuliah.  Dulu waktu tes IQ 3 kali dari SMP sampai SMA semuanya menunjukkan arah minat yang sama yaitu Literary atau pekerjaan yang berhubungan dengan membaca dan menulis. Padahal kuliah gw saja keguruan jauh banget dengan hasil tes IQ-nya. Dulu sempat bercita-cita jadi wartawan tapi mengingat kepribadian yang sedikit pendiam atau bahkan lebih banyak diamnya dari pada ngomongnya serta biaya kuliah jurnalistik luar biasa mahalnya. Gw mengurungkan niat tersebut dan akhirnya terdamparlah gw di PLB FIP UNJ. Entahlah gw juga bingung kenapa pas UMB gw milih itu.
         Apa saja sebenarnya yang kulakukan selama ini? sampai-sampai aku bisa meninggalkanmu begitu saja (ciehhh... bahasanya). Padahal selama ini gue mengalami banyak hal. Gue merasakan manis, pahit, asin, dan sepetnya hari-hari gw selama remaja hingga beranjak dewasa. Bagaimana kehidupan percintaan gw? Ok tema itu sering dijadikan cerpen tetapi dalam kasus gue tak pernah sekalipun aku tuangkan dalam cerpen karena kehidupan percintaan gw sedikit ironis.
         Gw jadi ingat kehidupan percintaan gw pada saat SMA dengan seseorang yang sudah mengagumi gw sejak gw menjadi anak baru di SMP yang menyenangkan lalu berubah menjadi menyedihkan. Lalu ketika kuliah bagaimana sedihnya ketika orang yang kau cintai tidak bisa kau miliki sepenuhnya ataukah seberapa tersiksanya ketika bersama seseorang yang sebenarnya tidak kita cintai. Gw pun gak pernah menceritakan semua ini ke temen-teman gw karena berbagai alasan. Mungkin kalau gw menceritakan semua kisah ini bakalan jadi novel kali yeee (ngarep).
         Selama masa-masa itu gw ngerasa kosong di hati, yang gw sendiri juga bingung ini sebenarnya ada apa sih, jomblo kaga, ibadah alhamdulillah dijalankan semua tapi hati masih merasa kosong, kehidupan baik-baik aja. Sampai sekitar setahun yang lalu gw di add temen SMP lewat Facebook namanya Rina dan dia bilang katanya kangen sama cerpen yang gw bikin.. Sebenarnya dulu ketika SMA gw pernah seangkot sama Rina ketika pulang sekolah dan dia bilang pengen banget baca cerpen bikinan gw. Rina adalah orang yang selalu menunggu cerpen bikinan gw. Sewaktu naik kelas 2 gw pindah dari SMP 68 Jakarta ke SMPN 10 Depok karena gw sekeluarga pindah rumah ke Depok. Sebagai anak baru yang masih beradaptasi dan mencari teman-teman baru gw senang sekali ketika ia berkomentar positif karya gw dan ternyata teman-teman sekelas gw pun berpendapat sama dengan si Rina. Setelah itu gw mulai mencari-cari buku kumpulan cerpen yang gw buat ketika kelas 2 SMP tapi gak ketemu, sepertinya sudah dikasih tukang beling atau warung deket rumah gw buat bungkus cabe.
         Putus asa nyari si buku cerpen gw mulai memutuskan untuk membuat lagi cerpen. Oke inilah saatnya gw mulai menulis cerpen lagi. Gw mulai buka si Kcrood (baca: kacrud) laptop semata wayang yang sangat dijaga kesehatannya karena kalau dia mulai sakit dan tewas entahlah gw harus ngepet kemana lagi buat beli laptop baru. Satu kata, dua kata, satu kalimat, dua kalimat, tiga kalimat, satu paragraf, 2 paragraf, 3 paragraf. Oh...tidak kata-katanya gak nyambung. Lalu gw mulai menghapus kata-kata tersebut dan gw mencoba untuk menulis lagi namun ternyata otak gw mendadak buntu bingung harus nulis apa.
         Gw kalut, gw hapus semua kata-kata, kalimat, dan paragraf yang sudah gw ketik, gw mulai menyalahkan diri sendiri dan merasa sangat bodoh. Tanpa sadar air mata sudah sampai di pelupuk mata dan mulai mengalir deras. Gw shutdown si Kcrood dan beralih ke meja belajar yang penuh dengan tumpukan kertas bekas waktu gw skripsi. Gw memperhatikan kertas itu ingat masa-masa ketika skripsi, lalu gw membalik kertas tersebut yang masih kosong, langsung gw ambil pulpen dan mulai menulis apa yang ada dalam pikiran. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Tangan gw mengalun dengan lancar sekali menyalin isi otak gw yang penuh dengan ide. Sehingga jadilah 1 cerpen yang berjudul Light Haters.



note: kisah ini  dipersembahkan buat Rina sang inspirator gw