Minggu, 31 Maret 2013

Menelisik Calon Kampus



Menurut orang-orang masa SMA merupakan masa-masa yang indah dan gak akan terlupakan, tapi buat gw masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan, sedikit nakal, dan diluar zona nyaman gw. Gw mo cerita saat-saat gw diterima di UNJ dan melakukan penelusuran calon kampus bersama bokap gw.

Sehari setelah pengumuman UMB secara online, gw dan bokap menuju UNJ. Tidak lupa di terminal Depok gw membeli Koran tempo untuk menyakinkan bahwa gw benar-benar diterima disana. Sambil menunggu bis berangkat gw membolak-balik halaman pengumuman UNJ dan tertera-lah nama gw disana. Kira-kira 1 ½ jam kemudian kami tiba di UNJ.  Kesan gw pertama kali lihat calon kampus gw ini adalah wow gedungnya unik ya bergaya tempo dulu ala tahun 70’n alias gedungnya tua bener cuy dulu belum direnovasi. Gw membandingkan ketika survey ke UIN bersama Yel dan Mae yang terlihat modern dan megah. Back to UNJ gw dan bokap menelusuri kampus itu yang seeepiiii banget tanpa kehidupan karena hari ini adalah hari minggu. Gw dan bokap celingak-celinguk kanan kiri mencari yang namanya Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan ditengah kebingungan kami mencari fakultas tersebut lewatlah seorang mahasiswi dan kesempatan ini tidak gw lepaskan untuk bertanya dimana si fakultas itu berada.

Si mahasiswi ini adalah anak FMIPA angkatan 2006 yang kebetulan sama-sama berdomisili di Depok. Mahasiswi penyelamat gw dari ketersesatan ini mengantarkan gw dan bokap ke FIP setelah itu ia pamit karena ia masih ada kegiatan lain disini. Gw kaget karena diantar ke sebuah gedung tua yang terkesan hampir mau roboh dengan pohon beringin besar di depannya. Belum lagi gedung di seberangnya yaitu Sarwahita yang sekarang sudah Allmarhum lebih parah lagi.  Gw sempat berpikir. ”gw gak salah gedung kan? Gw gak diantar ke gedung kosong berhantu kan.” Kecewa sudah pasti, tapi yang bikin gw semangat lagi adalah ini universitas negeri (yaiyalah) dan universitas ini sudah melahirkan guru-guru dan para ahli di bidang pendidikan terkenal dan berdedikasi tinggi.

Puas memandangi gedung FIP, kami menuju sebuah tempat namanya BAAK. Di tempat itu terdapat loket-loket yang dipisah sesuai dengan fakultas. Gw melihat ada 1 loket yang dibuka dan disana gw melihat ada lembar pengumuman UMB yang berbentuk seperti koran. Setelah puas berkeliling calon kampus, kami memutuskan untuk pulang. Jalur pulang yang dipilih bokap berbeda dengan sebelumnya. Ketika berangkan lewat jalan Pemuda dan pulangnya lewat Rawamangun Muka.

Pulang lewat Rawamangun Muka bukanlah ide yang baik karena ditengah cuaca yang teriknya luar biasa gw dan bokap jalan sampai utan kayu yang jaraknya kira-kira 500 meteran dan menunggu bis Mayasari Bakti Patas AC 84. Lalu bodohnya gw bersliweran metromini 49 dan 46 disamping tetapi gw gak kepikiran untuk naik itu sampe utan kayu. Belum lagi nunggu patasnya yang lama Hufffttt... rasanya pengen terjun ke kolam yang banyak es-nya. (lho?)

Setelah 45 menit nunggu akhirnya tuh patas datang juga, dinginnya ac di dalam bis itu membawa kenyamanan tersendiri buat gw. Ternyata eh ternyata patas ac yang gw naikin itu sama dengan patas yang gw naikin ketika berangkat. Bagaimana gw bisa tau itu patas yang sama? Tentu saja dari kernet dan supirnya. Patas ac itu tidak seperti metro mini yang bertebaran dimana-mana, paling banyak 8 mobil yang keluar.

Setelah sampai rumah gw bercerita ke nyokap tentang hasil penelusuran calon kampus gw. Malamnya gw iseng menandai siapa saja orang-orang yang senasib terdampar di jurusan ini. Gw mendapatkan 10 nama dan ada 1 nama yang tampak familiar untuk gw yaitu Aprilya. S. Lalu tiba-tiba HP gw berdering dari nomor yang gak gw kenal. Gw menjawab telepon tersebut. ”halo.”

”Halo nggie, ini gw Lya, lu dapet PLB juga ya?” gw mengiyakan.
”Wah senasib kita ya kok lu bisa milih itu? ”
”Gw awalnya disaranin sama si Yel, daripada gw gak dapet negri makanya gw pilih    itu, eh malah itu yang tembus.” Lalu kami janjian daftar ulang bareng kesana dan tidak lupa gw menceritakan hasil penelusuran calon kampus kami hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar