Menurut
orang-orang masa SMA merupakan masa-masa yang indah dan gak akan terlupakan,
tapi buat gw masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan, sedikit
nakal, dan diluar zona nyaman gw. Gw mo cerita saat-saat gw diterima di UNJ dan
melakukan penelusuran calon kampus bersama bokap gw.
Sehari setelah
pengumuman UMB secara online, gw dan bokap menuju UNJ. Tidak lupa di terminal
Depok gw membeli Koran tempo untuk menyakinkan bahwa gw benar-benar diterima
disana. Sambil menunggu bis berangkat gw membolak-balik halaman
pengumuman UNJ dan tertera-lah nama gw disana. Kira-kira 1 ½ jam kemudian kami
tiba di UNJ. Kesan gw pertama kali lihat
calon kampus gw ini adalah wow gedungnya unik ya bergaya tempo dulu ala tahun
70’n alias gedungnya tua bener cuy dulu belum direnovasi. Gw membandingkan ketika
survey ke UIN bersama Yel dan Mae yang terlihat modern dan megah. Back to UNJ gw
dan bokap menelusuri kampus itu yang seeepiiii banget tanpa kehidupan karena hari
ini adalah hari minggu. Gw dan bokap celingak-celinguk kanan kiri mencari yang
namanya Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan ditengah kebingungan kami mencari
fakultas tersebut lewatlah seorang mahasiswi dan kesempatan ini tidak gw
lepaskan untuk bertanya dimana si fakultas itu berada.
Si mahasiswi ini adalah anak FMIPA angkatan 2006 yang
kebetulan sama-sama berdomisili di Depok. Mahasiswi penyelamat gw dari
ketersesatan ini mengantarkan gw dan bokap ke FIP setelah itu ia pamit karena
ia masih ada kegiatan lain disini. Gw
kaget karena diantar ke sebuah gedung tua yang terkesan hampir mau roboh dengan
pohon beringin besar di depannya. Belum lagi gedung di seberangnya yaitu
Sarwahita yang sekarang sudah Allmarhum lebih parah lagi. Gw sempat berpikir. ”gw gak salah gedung kan? Gw
gak diantar ke gedung kosong berhantu kan.” Kecewa sudah pasti, tapi yang bikin
gw semangat lagi adalah ini universitas negeri (yaiyalah) dan universitas ini sudah
melahirkan guru-guru dan para ahli di bidang pendidikan terkenal dan
berdedikasi tinggi.
Puas memandangi
gedung FIP, kami menuju sebuah tempat namanya BAAK. Di tempat itu terdapat
loket-loket yang dipisah sesuai dengan fakultas. Gw melihat ada 1 loket yang
dibuka dan disana gw melihat ada lembar pengumuman UMB yang berbentuk seperti
koran. Setelah puas berkeliling calon kampus, kami memutuskan untuk pulang. Jalur
pulang yang dipilih bokap berbeda dengan sebelumnya. Ketika berangkan lewat
jalan Pemuda dan pulangnya lewat Rawamangun Muka.
Pulang lewat
Rawamangun Muka bukanlah ide yang baik karena ditengah cuaca yang teriknya luar
biasa gw dan bokap jalan sampai utan kayu yang jaraknya kira-kira 500 meteran
dan menunggu bis Mayasari Bakti Patas AC 84. Lalu bodohnya gw bersliweran
metromini 49 dan 46 disamping tetapi gw gak kepikiran untuk naik itu sampe utan
kayu. Belum lagi nunggu patasnya yang lama Hufffttt... rasanya pengen terjun ke
kolam yang banyak es-nya. (lho?)
Setelah 45 menit
nunggu akhirnya tuh patas datang juga, dinginnya ac di dalam bis itu membawa
kenyamanan tersendiri buat gw. Ternyata eh ternyata patas ac yang gw naikin itu
sama dengan patas yang gw naikin ketika berangkat. Bagaimana gw bisa tau itu patas yang sama? Tentu saja
dari kernet dan supirnya. Patas
ac itu tidak seperti metro mini yang bertebaran dimana-mana, paling banyak 8 mobil
yang keluar.
Setelah sampai
rumah gw bercerita ke nyokap tentang hasil penelusuran calon kampus gw. Malamnya
gw iseng menandai siapa saja orang-orang yang senasib terdampar di jurusan ini.
Gw mendapatkan 10 nama dan ada 1 nama yang tampak familiar untuk gw yaitu
Aprilya. S. Lalu tiba-tiba HP gw berdering dari nomor yang gak gw kenal. Gw menjawab
telepon tersebut. ”halo.”
”Halo nggie, ini
gw Lya, lu dapet PLB juga ya?” gw mengiyakan.
”Wah senasib kita
ya kok lu bisa milih itu? ”
”Gw awalnya
disaranin sama si Yel, daripada gw gak dapet negri makanya gw pilih itu, eh malah itu yang tembus.” Lalu kami
janjian daftar ulang bareng kesana dan tidak lupa gw menceritakan hasil
penelusuran calon kampus kami hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar