Jumat, 29 Maret 2013

Light Haters


Pembenci Cahaya

”Aku benci cahaya.” Tegas wanita yang duduk dihadapanku. Lalu ia membuka sekaleng soda kemudian menengguknya seperti minum air mineral. ”Kamu tengah malam telpon suruh aku datang Cuma mau bilang ini?” wanita itu menggeleng. Butuh waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa saja mengatakan kau mungkin butuh istirahat atau kasarnya aku bisa saja mengatakan kau sudah  gila, namun aku tidak cukup tega untuk mengatakan semua itu.
         Aku menarik nafas panjang kemudian aku mulai berkata, ” memang apa alasannya?”
         ”cahaya itu egois, ia merasa dirinya paling cemerlang. Kamu tahu kan semua yang bercahaya dianggap sebagai keindahan, kejayaan padahal isinya hanyalah keangkuhan belaka. Sedangkan apa yang di dapat dari kegelapan? Kesuraman, keterpurukan dan kejahatan. ”
         Aku terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku jadi bertanya-tanya apa benar wanita yang dihadapanku ini adalah dia yang telah menemani hari-hariku sebagai seorang kekasih selama 3 tahun. Sebenarnya apa yang menjadi kegelisahannya? Ini yang harus akau cari tahu untuk menghentikan semua kegilaan ini.
          \ Ia mungkin lebih muda lima tahun dari usiaku tetapi aku tidak menyangka pemikirannya bisa melebihi usiaku bahkan aku pun tidak terpikir sekalipun untuk repot-repot tengah malam berdiskusi membahas cahaya. ”Tapi kalau tidak ada cahaya kita tidak bisa lihat apa-apa.” Aku menanggapi dengan sekenanya sambil menyeruput sodaku yang embunnya hampir hilang. Aku hanya orang yang berpikit praktis dan simpel.
         Ia melanjutkan,” Hei..hei...hei...kalau tidak cahaya, tidak ada yang namanya tunanetra karena kita semua sama-sama buta.” Ia terdiam sejenak, perdebatan ini begitu menguras tanaga serta pikirannya, tak berapa lama ia mulai melanjutkan. ”Coba deh kamu perhatikan lagi kegelapan itu lebih abadi daripada cahaya itu sendiri. kamu pernah lihat orang meninggal lalu dikuburannya dikasih senter, lampu neon, bohlam, lampu petromaks atau semacamnya? Tidak kan.” Aku hanya tertawa kecil perkataan wanita ini ada benarnya juga. Aku masih belum menangkap apa yang menjadi kegelisannya.
         ”Aku benci cahaya, cahaya itu menyakitkan.”  Air matanya meleleh. ”Cahaya itu memperlihatkan kekurangan, dia bersenang-senang diatas penderitaan orang.” air matanya mengalir makin deras, aku segera memeluknya. Aku sudah menangkap kegelisahannya.
         ”Kamu sebenarnya suka cahaya kan! Kamu gak benci cahaya, kamu cuma takut.” Ia mengangguk di dekapanku. ”Ya mungkin kamu benar aku memang takut cahaya. Aku takut cahaya perlahan-lahan meninggalkanku. Aku takut kalau tidak akan bisa melihat lagi cahaya.”
         ”Tapi kenapa?”  Ia menjawab. ”Aku menderita Glaukoma.” aku dekap dirinya makin erat. Jadi ini inti dari semua pembahasan konyol malam ini. Aku ikut menangis bersamanya dan sejak itu juga aku juga benci cahaya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar