Pembenci Cahaya
”Aku benci cahaya.” Tegas wanita yang duduk dihadapanku. Lalu ia
membuka sekaleng soda kemudian menengguknya seperti minum air mineral. ”Kamu
tengah malam telpon suruh aku datang Cuma mau bilang ini?” wanita itu
menggeleng. Butuh waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa
saja mengatakan kau mungkin butuh istirahat atau kasarnya aku bisa saja
mengatakan kau sudah gila, namun aku
tidak cukup tega untuk mengatakan semua itu.
Aku menarik nafas panjang kemudian aku
mulai berkata, ” memang apa alasannya?”
”cahaya itu egois, ia merasa dirinya
paling cemerlang. Kamu tahu kan semua yang bercahaya dianggap sebagai
keindahan, kejayaan padahal isinya hanyalah keangkuhan belaka. Sedangkan apa
yang di dapat dari kegelapan? Kesuraman, keterpurukan dan kejahatan. ”
Aku terkejut mendengar kata-kata yang
keluar dari mulutnya. Aku jadi bertanya-tanya apa benar wanita yang dihadapanku
ini adalah dia yang telah menemani hari-hariku sebagai seorang kekasih selama 3
tahun. Sebenarnya apa yang menjadi kegelisahannya? Ini yang harus akau cari tahu untuk menghentikan
semua kegilaan ini.
\
Ia mungkin lebih muda lima tahun dari usiaku tetapi aku tidak menyangka
pemikirannya bisa melebihi usiaku bahkan aku pun tidak terpikir sekalipun untuk
repot-repot tengah malam berdiskusi membahas cahaya. ”Tapi kalau tidak ada
cahaya kita tidak bisa lihat apa-apa.” Aku menanggapi dengan sekenanya sambil menyeruput sodaku yang embunnya
hampir hilang. Aku hanya
orang yang berpikit praktis dan simpel.
Ia melanjutkan,” Hei..hei...hei...kalau
tidak cahaya, tidak ada yang namanya tunanetra karena kita semua sama-sama
buta.” Ia terdiam sejenak, perdebatan ini begitu menguras tanaga serta
pikirannya, tak berapa lama ia mulai melanjutkan. ”Coba deh kamu perhatikan
lagi kegelapan itu lebih abadi daripada cahaya itu sendiri. kamu pernah lihat
orang meninggal lalu dikuburannya dikasih senter, lampu neon, bohlam, lampu
petromaks atau semacamnya? Tidak kan.” Aku hanya tertawa kecil perkataan wanita
ini ada benarnya juga. Aku masih belum menangkap apa yang menjadi kegelisannya.
”Aku benci cahaya, cahaya itu
menyakitkan.” Air matanya meleleh. ”Cahaya
itu memperlihatkan kekurangan, dia bersenang-senang diatas penderitaan orang.”
air matanya mengalir makin deras, aku segera memeluknya. Aku sudah menangkap
kegelisahannya.
”Kamu
sebenarnya suka cahaya kan! Kamu gak benci cahaya, kamu cuma takut.” Ia
mengangguk di dekapanku. ”Ya mungkin kamu benar aku memang takut cahaya. Aku
takut cahaya perlahan-lahan meninggalkanku. Aku takut kalau tidak akan bisa melihat lagi
cahaya.”
”Tapi kenapa?” Ia menjawab. ”Aku menderita Glaukoma.” aku
dekap dirinya makin erat. Jadi ini inti dari semua pembahasan konyol malam ini.
Aku ikut menangis bersamanya dan sejak itu juga aku juga benci cahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar